™ []WELCOME TO ™ DATITECH GALERY ™ [] ™
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 November 2014

Sahabat Tetap Sahabat


Seperti biasa, pukul 06.30 bel berbunyi “kringg” semuanya kembali ke kelas dan memulai pelajaran. Pelajaran pertama adalah matematika. Menurut ku itu pelajaran, yang paling bete dan membosankan. Tapi aku tetap memperhatikannya.
Hari ini aku duduk paling belakang. Di depan aku melihat 2 cewek yang bisa dibilang salah satunya temanku, namanya chika, dia sahabatku dari sekolah dasar. Memang dulu kita sepakat 1 sekolah, dan tadinya aku tidak mau, karena dia memaksa ku, beginilah jadinya, persahabatan kami hancur karena teman barunya, milan. Aku kecewa padannya.
Aku menagis kalau mengigat masa lalu ku sama chika. Apabila aku rindu chika aku selalu membuka album foto kita berdua, rasannya perih sekali. Aku juga ingat waktu pertama kali kita berdua bertemu. Waktu itu di kelas 5, aku anak baru di sekolah itu, tepatnya aku duduk di samping chika.
“hai, kamu anak baru yah, kenalin aku chika” dia memperkenalkan dirinya duluan sambil megulur tangannya,
“hai juga, iya aku anak baru di sekolah ini, nama aku tika”. Tak perlu cukup waktu yang lama kita saling mengenal sesama, chika tau rumahku dan aku tau rumahnya chika.
Entah mengapa, dia melupakanku, mungkin dia sudah bosan dengan ku. Aku hanya bisa melihatnya dari jauh bersama temannya. Kadang-kadang aku sedih apabila aku mengigatnya kembali, tapi aku tahan, walupun kadang-kadang dadaku menjadi sakit. Itu memang penyakitku dari dulu, apabila aku ingin menagis, aku tahan, dadaku menjadi sakit.
Setiap hari aku selalu membawa bekal dari rumah. Setiap aku sedang makan mereka berdua ke kantin aku sedikit cemburu, melihat mereka, selalu ketawa bareng sambil pegangan tangan. Sepertinya aku ingin marah, tapi ku tahan.
Sebentar lagi uts kenaikan kelas, dan sebentar lagi aku meningalkan sekolah ini. Papaku dioper pekerjaannya di luar negeri, tepatnya di singapura. Aku ingin menelphone chika, tapi aku tunda, mungkin belum waktunya aku bilang ke dia.
Seminggu uts pun berakhir, sebentar lagi aku kelas 8 smp. Beberapa hari kemudian aku menerima rapotku, aku mendapatkan ranking 3, ranking 1 dan 2 yaitu sahabatku dan teman barunya, aku senang mereka tetap menempati peringkatnya. Besok aku sudah tidak ada di indonesia, aku akan meningalkan kenagan-kenagan yang paling indah.
Sepulang dari rumah, aku langsung mengambil handphone ku di dalam tas. Aku mencoba 3 kali menelphone chika tapi tidak diangkat, aku coba smsnya
“hai, sahabat lamaku, ini aku tika, apakah kamu masih ingat, besok aku tidak ada lagi di indonesia aku ikut papa ku ke luar negeri, sampai masa waktu kerjanya habis. Aku akan pergi ke singapura. Akhirnya aku bisa juga keluar negeri, aku banyak terimakasih sama kamu chik, kamu udah ajarin aku jadi sahabat ya sabar, pegertian, setia, tapi, kenapa kamu gak melakukan itu seperti apa yang kamu bilang. Aku janji, aku selalu inget kamu, oh iya aku lupa, selamat yah kamu bisa menempati ranking pertama lagi, selamat. Kalo kamu mau curhat, mention aku aja, mm.. Tapi kalo kamu masih inget aku sahabat kamu yah! Kalo gak mau sih gak papa, tapi aku akan selalu kasih kabar aku kok disini. Jangan khawatir, aku gak jauh dari hati mu chik, aku berangkat ke bandara pukul 10.00. Aku gak harapin kamu dateng kok, aku juga gak berharap kamu baca sms ini. Makasih ya chika. Kamu tetap jadi sahabat pertama ku. Selamanya.”
Sehabis ku menulis pesan itu air mataku menetes dengan banyak. Tapi, aku udah tenang, kasih kabar ke chika. Tak beberapa kemudian chika bales sms dari ku.
“hai juga tika, makasih juga tik. Tapi tik, aku tetap inget kamu kok, maafin aku yah, kalo aku jahat, egois, dan gak nepati janji ku, aku tetap sayang sama kamu, tapi pliss kamu jangan tingalin aku, aku bakal temenin kamu tika, maaf, maaf tik!”
Sehabis aku baca balesan sms chika, aku gak sempet jawabnya karena kau harus siap-siap untuk besok pagi.
Tepatnya, pukul 08. 35 aku mulai berangkat ke bandra seokarno hatta, sesampai di sana aku menunggu pesawat. Tiba-tiba chika lari sambil memangil namaku “tika tika tika, tunggu, aku minta maaf” dia bilang sambil meneteskan air matannya. “iya aku maafin kamu kok, makasih ya udah dateng jauh jauh kesini unk ketemu aku, walaupun kita jauh kita gak boleh saling lupa oke” kubilang sambil memeluknya dengan erat sambil menetaskan air mata ku.
Pesawat pun datang, chicka menamaniku sampai tempat pengantaran, bukan sampai disitu saja persahabatan kita, setiap hari, chicka selalu mengambil foto keadaan sekolah dan mengirimnya lewat email, begitu juga dengan aku, aku foto keadaan ku sekarang dan ku berikan kepada chicka.
Jadi, mulai sekarang aku mengerti, sahabat yang kita sayang, memilih sahabat lain, bukan maksud ia akan menjahui kita. Sahabat yang benar itu sahabat yang mengerti satu sama lain.


Cerpen Karangan: Rani Syah Putri
Facebook: Rani Syahputri
SMP Yadika 5

Because Of You


Pagi yang cerah. Kudengar deburan ombak pantai yang perlahan mulai hilang ditelan bisingnya suara kendaraan. Tirai-tirai yang menutup jendela kamarku mulai kubuka secara perlahan. Dengan mata ini, aku melihat betapa indah birunya mutiara surga di pagi hari. Pancaran sinar keemasan itu mengingatkanku pada suatu hal yang tak asing, kenangan-kenangan yang begitu indah dalam hidupku.
Namaku Viko, aku bersekolah di SMA Harapan Bangsa yang letaknya hanya 1 Km dari rumahku. Dulu bukan aku yang ingin bersekolah di sana, tetapi ibuku. Dengan sifatnya yang keras ia menyuruhku bersekolah di tempat itu, karena banyak teman-temannya yang menyekolahkan anaknya di sana. Termasuk ibuku. Akan tetapi, Tuhan bersikap adil kepadaku. Di sekolah itulah aku berkenalan dengan seorang gadis yang sangat istimewa. Dia bernama Nina.
Dengan wajahnya yang cantik, dia berhasil memikat hatiku. Tubuhnya tinggi semampai dengan rambut yang ikal dan poninya yang lucu. Entah mengapa setiap aku menyapanya, smsan dengannya, hatiku berdegup kencang. Hingga aku memberanikan diri untuk mengajaknya berpacaran.
“Kenapa kamu mau pacaran sama aku?” kataku memulai pembicaraan dengan Nina ketika ia menemaniku bermain basket.
“Karena aku nyaman saja duduk dekat kamu, ngobrol, bercanda, memang kenapa sih kok kamu tiba-tiba ngomong gitu sama aku?”
“Nggak papa, aku cuma ingin tahu saja, memang nggak boleh?”
“Oh, gitu ya. Ya udah deh.”
“Gimana sekolah kamu, nggak ada masalah kan?” tanyaku dengan lembut.
“Nggak ada sih, cuma sebel saja banyak guru yang nggak jera ngasih tugas banyak.”
“Ya maklumlah, kita kan masih anak sekolah.”
“Iya sih.” jawabnya pendek.
Aku sangat bersyukur memilikinya. Hari demi hari kita lewati bersama dengan penuh rasa bahagia. Tidak ada rasa khawatir dan cemas. Dan, tidak pernah sedikit pun terpikir olehku akan kata perpisahan. Ketika aku berpikir tentang perpisahan, aku merasakan ada sesuatu yang membuatku cemas. Perlahan-lahan aku ragu pada keyakinanku sendiri. Akan tetapi sekeras mungkin aku melupakannya.
Kuputuskan untuk pergi ke rumahnya, walaupun hari sudah terbilang larut malam. Demi perasaanku, aku memberanikan diri melewati gang yang sepi. Tepat di depan rumahnya, telah kulihat motor yang terlihat asing bagiku. Sangat asing. Di lamunanku itulah aku dikejutkan dengan seorang pria yang memakai jaket warna hitam, di hadapan Nina.
“Maaf sayang aku pulang dulu, besok kalau ada waktu luang aku mampir ke sini lagi deh. Bye.”
“Hati-hati ya.”
Perkataan itu adalah kata-kata yang sering kami ucapkan ketika berpamitan. Dan sekarang, apa yang kulihat adalah bukti cintanya kepadaku. Bukti yang dia berikan kepada siapapun yang dia sayangi. Bukti yang selalu meluluhkan hati setiap pria yang jatuh hati padanya.
Aku terpaku di hadapan 2 orang yang saling mencintai. Aku termenung melihat senyumnya yang tampak manis mengembang. Aku terkikis ketika melihat pria itu mencium jidatnya. Dia sama sepertiku.
Tanpa sadar air mataku deras berlinang. Aku ingin pergi jauh, menyendiri. Tanpa ada seorang kekasih yang mengajakku untuk kembali. Kekasih yang dulu membuatku bahagia. Walaupun dia seperti itu, aku sangat menyayanginya. Aku merindukan beberapa hari yang kita lalui bersama. Aku tidak kecewa. Aku tidak merasa tersakiti. Karena yang kurasakan ini adalah cinta.

Cerpen Karangan: Amalina Dwi Prasanti
Facebook: Amalina Dwi P
TTL: Yogyakarta, 18 Juni 1997
Twitter: @AmalinaDwiP
Alamat: Pepe Pasutan Trirenggo Bantul

Postingan Lama Beranda